Topik Terhangat

Perbedaan Pendapat Berujung Pemecatan, Haruskah?

Nirwanudin


Partai Golongan Karya (GOLKAR) mengambil sebuah keputusan yang paradoks dengan ungkapan menghimpun suara kader. Adalah muntasir hamid yang menentang pencapresan Aburizal Bakrie yang sering disapa ical dipecat. Ini ditegaskan oleh Nurul Arifin, Wakil Sekjen Partai Golkar di sela-sela Rapimnas ke III Partai Golkar di Hotel Aston, Bogor Nirwana Residence, Sabtu (30/6/2012) yang dilansir detik.com.

Ini bisa jadi tekanan psikologis dari sang ketua umum untuk kader yang membelot dan juga sebagai perang urat saraf untuk mengingatkan bahwa jangan coba-coba membelot dari barisan yang telah ditetapkan. Karena keliatannya sampai sekarang masih banyak yang kurang dan atau belum nyaman kalau tidak boleh saya menyebutkan kurang sepakat dan bahkan tidak sepakat atas pencapresan ical yang terkesan menutup kran terhadap kader lain yang juga pantas dicalonkan oleh partai golkar.

Mengingat kembali apa yang diperjuangkan oleh muntasir hamid sangat bisa dianggap sebagai masukan yang perlu dipertimbangkan. Namanya masukan bisa saja diambil dan atau ditindak lanjuti, bisa juga tidak. Walaupun pada akhirnya ical tetap dicalonkan sebagai capres dari partai golkar, rasanya “dosa” dari apa yang diungkapkan/diperjuangkan oleh mutasir hamid adalah “dosa besar” yang harus berujung pada pemecatan? bukankah pada saat muntasir hamid memberikan/mengungkapkan isi hatinya yang itu adalah sebagai masukan masih dalam tahap proses menghimpun masukan dan belum menjadi suatu keputusan final untuk pencapresan ical dalam rapimnassus.

Imbas dari pemecatan yang dilakukan karena perbedaan pendapat ini kalau kita lihat dari sisi lain bisa memberikan sinyal bahwa ical kurang bisa dikritik yang berimbas pada kampanye politik yang membuat formulasi yang kurang baik bagi golkar. Keterbukaan dan juga tidak anti kritik yang ditunjukan dan coba dikemas oleh partai golkar telah berbanding terbalik dengan dipecatnya muntasir hamid.

Maka, apa yang dilakukan/katakan muntasir hamid dengan argumentasi bahwa pencapresan ical perlu ditinjau ulang karena salah satunya balum selesainya kasus lumpur lapindo yang melibatkan ical, ini menjadi argumentasi logis dan pantas untuk direnungkan. Ini persoalan bangsa yang belum selesai sampai hari ini dan persoalan ini melibatkan ical. Kasus lumpur lapindo-siduarjo ini sudah sangat lama diperbincangkan dan menjadi konsumsi publik.

Hal ini juga diungkapkan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung dengan ungkapan, figur tokoh sangat menentukan dalam proses pemilihan capres. Mesin partai juga harus dimaksimalkan agar tak ada perpecahan. Dan yang paling penting menurutnya adalah hal tentang kasus lapindo.

Ini senada dengan apa yang saya ungkapkan dalam Opini saya sebelumnya yang berjudul Dilema Pohon Beringin yang dilansir spontannews.com tanggal, 05 Mei 2012. Ical membari sinyal bahwa sudah tidak mempunyai kesempatan kepada siapa saja yang ingin diusung oleh Golkar untuk mencalonkan diri sebagai capres. Termasuk, ketua dewan pembina Partai Gokar, Akbar Tandjung. Apa lagi untuk Jusuf Kalla yang jelas-jelas memang telah berseberangan dengan Aburizal Bakrie pada kongres Partai Golkar kemarin.

Dan juga penindakan kepada siapa saja yang membangkan (istilah ical) salah satunya adalah Muntasir Hamid, Ketua DPD II Partai Golkar Banda Aceh yang juga Ketua Forum Silaturrahmi DPD II Golkar yang menentang ical jadi capres dari partai golkar yang dipecat. Paling tidak dua pertanyaan ini telah terjawab dengan ditetapkanya ical jadi capres golkar dan dipecatnya muntasir hamid dari golkar karena dianggap membangkang.

Paling tidak ada beberapa catatan penting untuk diingat atas pemecatan muntasir hamid dari golkar. Pertama pemecatan ini akan berimplikasi pada situasi politik di daerah tingkat dua, karena sekaliber muntasir hamid adalah ketua forum silatirrahmi DPD II golkar. Kedua dengan pemecatan ini mengesankan bahwa golkar ternyata anti kritik, artinya, golkar kurang menghargai masukan, dan ini bisa menjadi konsumsi politik. Ketiga pemecatan yang dilakukan oleh petinggi golkar telah menambah daftar persoalan internal. Kita akan tunggu apa episode berikutnya yang akan terjadi pasca pemecatan ini. Apakah golkar akan tetap solid atau sebaliknya.

Penulis : Nirwanudin, Peneliti Muda Aceh Political Institute (API)


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :