Topik Terhangat

Abangku Dibunuh, Kenapa ?

Ilustrasi Pembunuhan

Ilustrasi Pembunuhan


Senja mulai gelap seakan bulan enggan menampakkan dirinya untuk menerangi malam seperti halnya biasa, aku terpana melihat sekumpulan bocah dengan riangnya bersenda sampai tanpa ku sadari mentari kembali berinar menghangatkan

alam semesta yang setelah sekian lama diselimuti kedinginan malam.

Hari itu aku menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa yang dilakukan oleh orang lain sebagai penghuni panti asuhan, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang sambil ku menunggu jatah makan siang ku sempatkan diri untuk mencuci pakaian yang menumpuk didalam bilik tempat ku berbaring melepaskan rasa lelah setelah membolak-balik halaman Al-Qur’an, mentari pun mulai memanasi punggungku ketika aku menyabuni tiap helai pakaian disumur panti.

Aku merasakan ada hal yang janggal dengan perasaan ku entah kenapa aku pun tak mampu menjawabnya waktu itu, selang beberapa menit datanglah sebuah berita duka yang mengatakan bahwa Abangku tercinta tempatku bersandar dalam keluh kesah menghadap Allah Maha Kuasa, waktu itu aku mencoba tenang sambil ku hirup nafas perlahan seraya bergumam dalam hati semoga berita itu tidaklah nyata.

Sang pembawa berita tidak lain adalah AyahWa ku sendiri yang pastinya beliau tidak mungkin mengumbar kebohongan, perlahan dia mendekap dan memelukku serta ditelingaku dia berbisik “nak, sabar, semua ini sudah di atur oleh Allah, Abangmu meninggal dunia tadi malam”, sontak ku terkejut dengan tatapan kosong, “berita duka ini sungguh benar adanya” gumamku dalam hati.

Panti Asuhan tempatku tinggal memang membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk dapat mencapai rumah ku itupun dengan menaiki angkot labi-labi yang mendominasi angkutan umum didaerah ku, gusar dipenuhi rasa gundah dan bertanya dalam hati kenapa abang ku tercinta secepat itu meninggalkan aku tatkala aku masih membutuhkannya padahal yang aku tau dia sehat-sehat saja, tapi ya sudahlah sesampainya dirumah akan kutanyakan perihal itu pada orang tua ku, dalam perjalanan aku masih dirudung rasa gelisah namun aku tidak tau mau mengatakannya sama siapa toh siapapun tidak akan mampu menjawab segala kegelisahan yang aku alami kecuali sang Khaliq.

Dari kejauhan dibalik ruang pohon kelapa aku melihat sungguh banyak orang yang berkunjung, ada yang sedih berlinangan air mata, ada yang sibuk membuat kerenda serta tiada luput dari penglihatanku banyak orang yang mengenakan seragam loreng dengan gagahnya menyelipkan M.16 di bahu, hatiku makin gusar kala itu pada siapa aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi ?

Orang-orang yang hadir waktu itu seakan semua matanya melihat kearahku, air mata pun tak sanggup lagi ku tahan hingga membasahi wajahku yang lusuh, terus ku ayunkan langkah hingga sesaat ku merasa kaki ku kaku tiada dapat bergerak, terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaanku dalam hati, ku lihat dibalik kain kafan putih itu terbalut sesosok orang yang selama ini aku jadikan panutan, tumpuan serta menjadi tempat untuk ku berbagi kisah semenjak ayah ku di culik oleh segerombolan budak negara ketika pertama kali tanah ini dihantui oleh suara tembakan senjata, dibalik kain putih itu bukanlah orang lain melainkan abang kandungku sendiri, darah panas masih mengalir deras diantara kepala dan badannya walalupun nyawa sudah tiada melekat dengan raganya.

Belakangan aku tau apa yang sebenarnya telah menimpa salah satu keluargaku, abangku tercinta dibunuh oleh sekawanan yang katanya para pejuang kemerdekaan Aceh dengan cara memotong leher seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat di hari meugang menyambut bulan puasa atau hari raya, kesadisan dan kebiadaban itu dilakukan oleh para bedebah dengan alasan abangku adalah seorang guru SD yang sehari-hari menikmati upah dari negara dan juga mereka berasalan abangku bersekongkol dengan pemerintah dengan cara mencalonkan dirinya sebagai anggota dewan yang pada tahun 2004 akan dilaksanakannya pemilu, pada waktu itu memang setiap masyarakat aceh umumnya sudah ditanamkan sebuah paham bahwa ”ureung aceh hareum pajoh peng indonesia (orang aceh haram menikmati uang dari pemerintah indonesia)”, ada juga yang mengatakan bahwa sudah sewajarnya ia dibunuh dengan cara yang keji itu dikarenakan apabila tidak dibunuh maka akan menghambat jalannya perjuangan menuntut kemerdekaan Aceh, sebuah alasan pembenaran yang dipakai untuk melakukan perbuatan biadap yang hingga kini tiada mmapu ku terima dengan akal sehatku, mungkinkah yang demikian itu menjadi alasan, entahlah akupun enggan bertanya kerana ku tahu tiada seorang pun yang berani menjawabnya.

Hari berganti hari sampai tahun pun seakan cepat berlalu, perang di aceh pun kian reda setelah terjadinya bencana alam Gempa-Tsunami yang meluluhlantakkan hampir 50% tanah aceh di akhir Desember 2004, seluruh mata didunia menatap tanah indatu dengan rasa iba sehingga bantuan demi bantuan di terbangkan  ke aceh guna meringankan beban para korban, nah mungkin saat itu pula beberapa para elit yang pernah bertikai di aceh baik dari pemerintah RI maupun dari kalangan yang mengaku dirinya GAM mengambil inisiatif bahwa petumpahan darah diaceh harus dihentikan, waktu itu mungkin banyak kalangan tertipu dengan agenda perdamaian yang di fasilitasi oleh Crisis Management Initiative dan diprakarsai melalui seorang tokoh penting yakni Martin Ahtisari.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perdamaian antara Pemerintah RI-GAM membawa berbagai misi didalamnya antara lain menyangkut keberadaan pengadilan HAM terhadap kasus pelanggaran HAM masa lalu namun sampai detik ini para korban konflik masih saja menanggung beban derita akibat anggota keluarganya jadi objek sasaran peluru, disamping itu dibolehkannya pembentukan partai politik lokal (PARLOK) yang katanya mampu menampung setiap persoalan yang terjadi di aceh padahal keberadaan parlok hanya bisa jadi sampah yang nantinya menambung tiap berak yang dikeluarkan oleh para budak didalamnya,,,,cuiiih.!!

Kembali kepersoalan dogma (doktrin lama) yan pernah diucapkan oleh segerombolan yang katanya pejuang yang pada kenyataannya mereka tidak lebih dari penyamun dan sentiasa dirinya dijadikan budak, katanya untuk memudahkan perjuangan menuntut kemerdekaan maka tiap duri yang menghalangi langkah maka wajib dimusnahkan tanpa terkecuali sehingga aku menyimpulkan bahwa abangku juga bagian dari duri tersebut yang semestinya dihilangkan demi tercapainya cita-cita mulia yakni kemerdekaan aceh.

Awalnya aku mencoba percaya bahwa abangku adalah bagian dari duri  walaupun hati ku tidak percaya dan menerima perlakuan itu karena abangku hanya orang biasa yang tiada salah dan sejauh ini tiada bisa dibuktikan kesalahannya secara hukum, namun perlahan aku melihat dan mencerna perihal yang dulu pernah terjadi di era tahun-tahun pembantaian sehingga kucoba membuat perbandingan dengan analisa berfikir logika, nyata terungkap sudah tiap pertanyaan yang tiada terjawab dulunya yang bahwa rakyat aceh murni dibohongi oleh sejumlah aktor yang membawa agenda perdamaian.

Aku sekarang berbalik tanya, dulunya mereka mengatakan bahwa penghambat perjuangan kemerdekaan wajib dimusnahkan, sekarang apa hasilnya sudahkan merdeka ? kalau perdamaian dan partai politik yang didapat dari bertahun-tahun berperang, untuk apa abangku dibunuh ?

Tulisan ini kupersembahkan untuk

Kakandaku bernama Mahyuddin korban pembunuhan yang dilakukan oleh anggota GAM serta untuk ayahanda ku bernama Abd. Rahman yang menjadi korban Keganasan Pasukan Baret Merah pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) serta buat ibundaku tercinta yang sampai detik ini trauma menanggung beban derita.

Penulis Fery afrizal
Alumni Sekolah Hak Asasi Manusia (HAM) di Komisi Orang hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Jakarta, juga seorang mahasiswa Fakultas Hukum/Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh dan mendirikan Organisasi Mahasiswa yang Konsent terhadap Isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM) yang bernama Forum Komunikasi Mahasiswa Aceh dan juga sebagai Volunter/relawan di LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe.


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :