Topik Terhangat

Stop..!! Ceramah Maulid Ala Komedian Dan Makian

Rabu, 30 Januari 2013. Pkl. 07:32 WIB

Dibaca :1,164 views

Oleh : Tgk. Mustafa Husen Woyla | Opini

Stop..!! Ceramah Maulid Ala Komedian Dan Makian

Stop..!! Ceramah Maulid Ala Komedian Dan Makian


Alunan zikir dan syair mulai terdengar di berbagai sudut belahan bumi yang di huni oleh ummat muslim. Pertanda bulan kelahiran sang baginda rasulullah saw  telah tiba. Dalam memperingati hari kelahiran hamba agung itu, para pengikut setia semata wayang dari pasangan Abdullah-Aminah itu pun merayakan dengan berbagai ritual,tabligh,zikir dan amal sosial yang sangat berfariasi.

Dalam memperingati hari yang sangat bersejarah bagi seluruh ummat muslim, khusus masyarakat Aceh. Ada ragam warna yang sangat khas  dan bersahaja. Biasanya, siang kenduri di Meunasah dan rumah-rumah warga. Malam hari diadakan ceramah Maulid dengan mengundang penceramah lokal maupun dari luar Aceh. Intinya sangat bersahaja. Bahkan peringatan maulid diperingati sampai seratus hari. Dikarenakan ummat muslim memperangati hari lahir sekaligus hari wafatnya nabi. Sebab itulah ada yang memperingati sampai seratus hari. Sebagaimana tradisi Aswaja (Ahlussunnah wal jamaah) atau warga Nadhiyyin (pengikut Nahdatul Ulama) yang sudah mengakar di Aceh.

Semua rangkaian acara diatas tidak ada cacat dan cela. Namun ada sekedit yang tidak sedap dipandang sehingga sedikit mengurangi makna dari peringatan maulid kita. Yaitu,adanya sebagian  penceramah maulid di aceh berceramah ala komedian dan makian.

Pergeseran Makna Dakwah Dalam Masyarakat Islam Aceh

Ketika Panitia PHBI (Perayaan Hari Besar Islam) hendak  mencari penceramah, Kriteria yang paling menentukan dipilih atau tidak-nya calon penceramah. Tergantung tingkat kelucuan,kemerduan suara dan jumlah lagu-lagu dalam ceramah. Begitu juga halnya masyarakat dalam menghadiri ceramah baik itu ceramah Maulid,Israk  Mi’rajatau atau ceramah-ceramah keagamaan lainnya.

Pertanyaan pertama yang diajakun sebelum mengahadiri ceramah adalah kadar lucu,lagu-lagu dan kemerduaan suara sang penda’i. Dan yang sangat kita sayangkan bila para abu-abu,cendikiawan,tengku-tengku dan sejarawan  yang mempunyai ilmu yang luas, jika tidak memenuhi tiga kriteria diatas. maka dakwah dan majlisnya akan kosong alias tidak ada jamaah.Benar-benar memprihatinkan!.

Implikasi lain juga berimbas, peristiwa ketawa-ketawi jadi menu yang diburu. Secara sistemik keadaan telah diubah, berangsur-angsur mempengaruhi perilaku kita dalam hidup bermasyarakat. Tidak bisa dibayangkan,seandainya setelah mendengar ceramah ala komedi mereka juga mengamalkan Islam dalam keadaan olok-olok atau sekedar lelucon. Hal ini tidak tertutup kemungkinan akan menjadi kenyataan yang mengerikan. Na’uzubillah tsumma Na’uzubillah.

Ada juga sebagian kecil pendakwah, berceramah penuh dengan maki-makian,sumpah serapah dan tak jarang juga merendahkan kelompok tertentu. Sehingga masyarakat awam salah menyimpulkan terhadap tokoh panutan (public figure). Bagaimana tidak,Tokoh pemuka agama saja berbicara kasar, apalagi masyarakat bawah yang mengikutinya. Tentu lebih parah lagi alias tuha adoe ngon aduen.. Padahal telah kita maklumi bahwa dakwah rasul sangatlah hanif sekalipun pada kafir Yahudi yang memusuhi dakwah beliau. Bahkan dibalik kehanifan metode dakwah   beliaulah, watak kafir Quraisy yang terkenal keras sedikit demi sedikit melebur mencair bisa menerima Islam sebagai agamanya.

Ceramah Ala Makian Jadi Bumerang Bagi Islam

Islam sekarang sedang disudutkan di berbagai  belahan dunia Barat. Jika sedikit saja ada kesalahan muslim, Media Barat akan membesar-besarkannya. Bahkan sering kita lihat, media Barat sangat proaktif dalam menyerang Islam. Tujuan mereka hanya satu, agar masyarakat global mengklaim Islam dalam agama sadis.

Lalu apa hubungannya dengan penceramah yang sering membentak-bentak jamaah dengan bahasa yang tidak etis dan layak untuk konsumsi publik?. Jelas berkomplikasi kepada  semakin benarnya tuduhan orang yang membenci Islam bahwa Islam adalah agama pedang dan sadis. Tidak percaya. Kata meraka, lihat saja di tabilgh,ceramah terbuka dan mimbar-mimbar mesjid para mubaligh,penceramah dan khutaba’ (Khatib-khatib) sering kali menggunakan bahasa kasar kepada para jamaahnya.

Alasan  Penceramah Ala Komedian Dan Makian

Ceramah atau dakwah jaman sekarang jika tidak terdapat konten lucu, tidak diminati oleh audiens. Karena masyarakat sekarang banyak yang sudah apatis atau cuek terhadap agama. Makanya kalau kita pertahankan metode dakwah tanpa unsur humor tidak menarik. Jalan keluar  satu-satu menurut mereka adalah mengemas dakwah dalam bentuk komedian.

Alasan unik lainnya yang diutarakan oleh penceramah ala makian adalah ceramah jaman sekarang mesti mengunakan bahasa kasar. Mengingat masyarakat sudah terlalu lalai dan keras kepala jadi mesti kita dakwahkan dengan cara keras pula. Penulis pikir ini hanya alasan semu yang tidak bisa kita pertaanggung jawabkan. Mari kita bandingkan, keras manakah watak orang Aceh dengan Arab Jahiliyyah?…Jelas keras karakter orang Arab,jadi penggunaan metode dakwah ala preman pasar perlu dihentikan

Pengertian Dakwah

Dakwah mengandung makna an-nasyr (menyebarkan), al-balagh (menyampaikan), al-iqna (menyadarkan) dan ad-di’ayah (propaganda). Semua itu sudah menjadi makna  tersendiri.
Tiga bagian dakwah digunakan untuk mengetahui metode dan jalan penyadaran. Komplitnya, Dakwah dapat menggugah dan mengubah.

Lalu, Apa Pandangan Islam Terhadap Humor.

Sebenar dalam Islam sah-sah saja, rasulullah saw sendiri pernah berhumor dan sempat membuat sahabat tertawa. Namun, yang kita permasalahkan adalah,sedikit dan  banyaknya humor. Disamping mengingat,dakwah bukanlah ajang untuk membuat lelucon. Sebagaimana sabdanya. Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar (HR. ath-Thabrâni dalam al-Kabir  XII/13443).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:  Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia (HR. Ahmad Jilid 5, Abu Dawud No. 4990).

Humor Jangan Melawati Batas

Sebagian orang sering kebablasan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma bahkan bisa menjatuhkan wibawa dan martabat di hadapan khalayak ramai. Orang-orang akan memandang kita  rendah, karena telah menjatuhkan martabat kita  sendiri dan tidak menjaga wibawa. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseoran.

Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius. Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim, ketika memberikan persaksian, dan lain sebagainya

Sebagaimana kata. Prof. Ali Hasyimi, “ Kelakar ibarat garam dalam makanan. Jika banyak akan pahit,Jika kurang makanan akan hambar. Jadi, untuk menghindari keduanya harus kita seimbangkan.

Tanggung Jawab Siapa Terhadap Pergeseran Nilai Dalam Masyarakat?

Pembodohan ummat semakin meluas, bisa terjadi tanpa kesengajaan. Bagaimana pun proses makin terpuruknya sikap mental sebagian besar anggota masyarakat disebabkan oleh pemuka –pemuka berwajah preman dan tanggung jawab itu pula tentunya kembali pada pribadi masing-masing. Seperti kata Narit Madja “ Padum keuh gob peu ingat menyoe hana ta ingat keu droe. Padum na keuh ma bidan meu dan menyoe hana ta ran keudroe

Secuil Kritikan Dan Masukan Untuk Penceramah Kita

Seyogyanya, ceramah terbuka walaupun ditujukan bagi kalangan bawah sekalipun, tidak perlu membesarkan porsi relaksasi dengan pilihan (kemutlakan semu, menggunakan) pendekatan teknik komedian secara berlebihan.

Sudah saatnya, para penuntun ummat  tidak lagi menyajikan seberkas tontonan yang menganggap bahwa hanya lawakan hedonis menuai ketawa ala pingkal, gerak anatomis tubuh naif-konyol, atau retorika jenaka rendahan menjadi alat atau sisipan metode yang menjamin pembelajaran efektif bagi masyarakat umum.

Subtansi  Peringatan Maulid

Berhasil meyakinkan masyarakat akan risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad bukan malah meragukan akan risalah yang beliau bawa setelah mendengar gaya penceramah menceritakan riwayatnya dalam keadaan Kheum-khak aatau dihujam dengan berbagai cercaan dan cacian dari pendakwah. Peringatan Maulid hemat penulis, tidak mesti ceramah dan kenduri. Tapi bisa juga kita undangan sejarawan muslim,membuat seminar keislaman dan kajian-kajian sirah nabawiyyah lainnya yang mulai terlupakan dalam generasi kita.

Semoga dengan tulisan ini kita sadar akan pentingnya cara berdakwah dengan benar. Karena walaupun maksudnya baik jika salah jalan tetap salah dalam pandangan syariat.

Allahu a’lam bisshawwab.

Penulis : Tgk. Mustafa Husen Woyla
Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Kr. Kalee,Aceh Besar & Mantan Ketua Ikatan Santri Barat Selatan Dayah,Darul Muarrif Lam Ateuk.


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :