Topik Terhangat

Cut Nyak Dhien, Gelora Dalam 150 Menit

Sabtu, 25 Mei 2013. Pkl. 16:21 WIB

Dibaca :715 views

Oleh : Merdeka | Sejarah

Cut Nyak Dhien, Gelora Dalam 150 Menit

Cut Nyak Dhien, Gelora Dalam 150 Menit


Siapa tidak kenal Cut Nyak Dien. Kisah perjuangan pahlawan perempuan asal Aceh itu kerap kita dengar sejak duduk di bangku sekolah. Dramatis dan membangkitkan semangat, begitulah saat kita membaca ulang perjalanan istri Teuku Umar itu.

Dan ternyata Eros Djarot mampu menangkap semangat juang Cut Nyak Dien, dan menerjemahkannya ke dalam sebuah film epos drama perjuangan berjudul Tjoet Nja’ Dhien.

Tidak sia-sia memang. Film besutan Eros Djarot yang muncul pada 1988 itu seketika melejit dan menjadi buah bibir banyak orang. Eros nampak bersungguh-sungguh merajut dan menghadirkan semua elemen perjuangan Tjoet Nja’ Dhien beserta kaki tangannya selama melawan Belanda, mendekati aslinya.

Dia ingin menyuguhkan cerita soal patriotisme, bersanding dengan kegetiran, pengkhianatan, dan air mata. Dia pun harus meramu naskah dan menghadirkan dialog dengan menyelipkan percakapan dalam bahasa Aceh dan Belanda. Semua itu dilakukan agar para penonton dapat hanyut dalam arus cerita film berdurasi 150 menit itu.

Tidak hanya dari sisi cerita dan sinematografi, seni adu peran para aktor dan aktris dalam film Tjoet Nja’ Dhien mampu menarik perhatian. Tengok saja akting memukau dari Christine Hakim selaku tokoh utama. Bahkan, film ini pula yang makin melambungkan namanya dalam kancah perfilman nasional dan internasional.

Akting Slamet Rahardjo yang memerankan Teuku Umar, serta Pietrajaya Burnama sebagai Pang Laot juga tak bisa dianggap remeh. Apalagi saat adegan Pang Laot rela memberitahukan keberadaan Tjoet Nja’ Dhien kepada para serdadu Marsose, satuan khusus militer Kerajaan Belanda yang bertugas memburu Tjoet Nja’ Dhien, dengan taktik beringas. Apalagi watak antagonis perwira Tentara Kerajaan Belanda, Veltman, yang mulus diperankan oleh Rudy Wowor.

Kerja keras Eros Djarot akhirnya terbayar, saat film Tjoet Nja’ Dhien berhasil menyabet tujuh penghargaan pada ajang Festival Film Indonesia 1988. Mulai dari pemeran wanita terbaik, sutradara terbaik, skenario asli terbaik, cerita asli terbaik, tata sinematografi terbaik, tata artistik terbaik, sampai tata musik terbaik.

Setahun kemudian, Tjoet Nja’ Dhien menjadi film Indonesia pertama yang diputar di Festival Film Cannes, Prancis. Hal itu membuat harum dunia sinema nasional, lantaran karya anak bangsa itu bisa sejajar dengan garapan sineas dunia.

Film Tjoet Nja’ Dhien juga sempat diikutsertakan dalam ajang Academy Awards ke-62 pada 1990, dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Tetapi sayang, mahakarya itu tidak lolos dalam pencalonan nominasi.

Apapun alasannya, bisa dibilang sampai saat ini film Tjoet Nja’ Dhien adalah film biografi sejarah yang belum ada lawannya. Film itu menunjukkan sebuah pencapaian tertinggi dari para pelaku film dan seni peran, guna menggambarkan cita-cita luhur Tjoet Nja’ Dhien mempertahankan setiap jengkal tanah Rencong, tanah kelahirannya.


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :