Topik Terhangat

Pelemahan Rupiah Belum Mampu Angkat Harga Kopi di Aceh

Kopi Aceh

Kopi Aceh

BANDA ACEH | DiliputNews.com –  Forum Kopi Aceh (FKA) menilai lemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belum mampu mendokrak harga kopi Arabika di tingkat pedagang di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, karena permintaan luar negeri masih lesu.

“Merosotnya nilai rupiah sepertinya belum mampu menaikkan harga kopi Arabika di Aceh Tengah dan Bener Meriah, karena kondisi ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat belum normal,” kata Ketua FKA Mustafa Ali saat dihubungi di Takengon, Rabu 11 September 2013.

Ia menyatakan, jatuhnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS ternyata tidak dibarengi dengan membaiknya ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat yang merupakan negara pengimpor kopi Arabika terbesar.

Mustafa menyatakan, terpuruknya rupiah saat ini berbeda dengan pada waktu Indonesia mengalami krisis ekonomi 1998.

Pada saat itu, katanya, kondisi ekonomi di luar negeri stabil, sehingga krisis moneter membawa berkah bagi petani di daratan tinggi Gayo, karena harga kopi Arabika pada waktu itu bisa mencapai Rp160 ribu/Kg dari sebelumnya hanya Rp25 ribu hingga Rp30 ribu/Kg.

Saat itu, nilai rupiah anjlok pada titik terendah terhadap dolar Amerika Serikat yakni mencapai Rp16 ribu per dolar.

“Pada saat krismon tahun 1998 harga kopi Arabika di pasar luar negeri mencapai 10 dolar atau Rp160 ribu/Kg. Jadi, pada waktu itu, krismon membawa berkah bagi petani di daerah berhawa dingin itu,” katanya.

Komoditas kopi jenis Arabika merupakan penyumbang terbesar ekspor non migas Aceh, sehingga volumenya dari tahun ke tahun terus meningkat.

Namun, anjloknya nilai rupiah terhadap dolar pada tahun 2013 ini belum berpengaruh terhadap nilai ekspor Aceh, khususnya kopi Arabika yang merupakan komoditas andalan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Jadi, krismon yang yang terjadi di negara kita pada 1998 jauh berbeda dengan sekarang ini, karena kondisi ekonomi di luar negeri juga berbeda,” kata Mustafa.

Tapi, sekarang ini, ujarnya, di saat nilai rupiah rendah, tapi tidak didukung dengan permintaan luar negeri yang maksimal, mengingat kondisi ekonominya juga kurang kondusif.

Oleh karenanya, kata dia, sampai sekarang ini, kenaikkan nilai dolar belum berpengaruh terhadap harga kopi Arabika asal Aceh, karena permintaannya belum ada. “Sekarang ini, stok kopi kualitas ekspor di Aceh Tengah dan Bener Meriah masih banyak, karena permintaan luar negeri belum ada,” ujarnya.

Disebutkan, sebenarnya permintaan ada, namun harga yang ditawarkan masih rendah, sehingga pedagang tidak melepas.

Mustafa menyatakan, harga kopi dunia saat ini masih rendah, karena persediaan di negara produsen seperti Brazil melimpah, sehingga mereka berani melepas dengan harga tiga dolar AS per kilogram. “Kalau kopi kita ditawar 3 dolar rugi, kecuali 5 atau 6 dolar, baru kita berani melepas,” katanya.

Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah merupakan daerah penghasil kopi Arabika terbesar di Aceh dengan luas sekitar 85 ribu hektare dan hampir 90 persen produksinya diekspor.(Red/Ant)


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :