Topik Terhangat

Harga Jual Ponsel Akan Naik

      Harga Jual Ponsel Akan Naik

Harga Jual Ponsel Akan Naik

BILA tidak ada halangan, awal tahun depan pemerintah akan menaikkan tarif PPh impor handphone dan laptop, dari 2,5% menjadi 7,5%. Alasannya, kedua barang ini—khususnya handphone—menjadi penyumbang impor terbesar setelah migas. Dampaknya diperkirakan terjadi kenaikan harga jual ponsel di pasaran hingga 10 persen.

Asal tahu saja, setiap tahun Indonesia mengimpor sebanyak 45 juta ponsel. Saat ini ada 43 merek ponsel yang beredar di pasar Indonesia. Perinciannya, 15 merek global dan 28 merek lokal. Namun, sebanyak 98% pasar ponsel dikuasai merek global, sementara ponsel merek lokal cuma mengempit 2%.

Lembaga riset Growth for Knowledge (GfK) memproyeksikan pertumbuhan penjualan ponsel pintar bisa sampai 44% di tahun ini.

Memang, pasar handphone di Indonesia begitu gemuk dan menggiurkan. Dengan penduduk mendekati 250 juta jiwa dan kelas menengah yang terus bertambah, Indonesia jadi lahan empuk bagi para produsen ponsel kelas dunia masuk ke sini.

Tak hanya produsen ponsel, para produsen produk personal komputer (PC) di Indonesia juga ikut-ikutan masuk ke pasar ponsel. Acer, misalnya, yang belakangan ini memproduksi ponsel cerdas merek Liquid Z110, Liquid Gallant E350, dan Cloud Mobile S500.

Selain Acer, Lenovo mengeluarkan produk smartphone Lenovo lewat Trikomsel, yang selama ini menjadi distributor Lenovo di Indonesia.

Polytron tak mau kalah. Produsen teknologi asal Indonesia yang selama ini menggeluti industri elektronik, November tahun lalu ikut berkompetisi memproduksi ponsel pintar dengan sistem operasi android. Saat itu, Polytron meluncurkan seri ponsel android Wizard terbaru, yakni W2500.

Semua ini terjadi, sekali lagi, karena pasar handphone di Indonesia begitu manis. Padahal, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdangan Nomor 82 Tahun 2012 yang berlaku pada 1 Januari 2013. Beleid ini intinya menghambat masuknya impor ponsel, komputer genggam, dan komputer tablet ke Indonesia.

Aturan ini, misalnya menyebutkan,importir gadget berteknologi tinggi harus mendapat lisensi sebagai importir terdaftar (IT) dan persetujuan impor (PI). Sebelumnya, aturan semacam ini tidak ada sehingga pedagang dan distributor gadget bisa bebas mengimpor sendiri produk-produk tersebut. (Red/BN)


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :