Topik Terhangat

Kenakalan Remaja, Antara Mencari Jati Diri

Kenakalan Remaja, Antara Mencari Jati Diri

Kenakalan Remaja, Antara Mencari Jati Diri


“ALL IS WELL” . Bagi yang mungkin pernah sejenak singgah menikmati  film “3 Idiots” yang digalang oleh sutradara ternama Rajkumar Hirani, tentu tidak asing dengan kata-kata tersebut. Sepintas terlihat seperti film komedi yang hanya menggambarkan “lawakan” dan hiburan semata. Namun, siapa sangka film bollywood ini mengandung filosofi yang berharga tentang bagaimana cara menyikapi karakter remaja. Aamir Khan yang berperan sebagai “Ranchoddas” seorang mahasiswa universitas ternama di India (baca; Imperial College Engineering) memiliki kemampuan luar biasa dan selalu mengaplikasikan ilmu tersebut. Sementara kedua teman sekamarnya Farhan (R.Madavhan) dan Raju (Sharman Joshi), hanya memiliki kemampuan dan nilai pas-pasan saja.

Sebagai teman, Raju dan Farhan yang notabenenya adalah anak seorang miskin yang sedang sedang beruntung bisa berkuliah di ICE, ingin bernasib sama seperti Ranchoddas. “Saya bisa menjadi jenius, karena saya menekuni dunia saya, dunia mesin. Jadilah dirimu sendiri, bukan apa yang diinginkan orangtuamu, dan kejar impianmu”.

Suatu ketika, gerombolan “3 Idiots” tersebut membuat kerusuhan di kediaman rektor.  Akibatnya, Raju di adili dengan pilihan dikeluarkan, atau membuat pernyataan yang dapat mengeluarkan temannya Ranchoddas. Karena tidak mampu memberi keputusan, antara mengecewakan keluarganya atau mengkhianati karibnya, akhirnya Raju memutuskan melompat dari gedung.  Beruntung, teman setianya langsung membawanya ke rumah sakit.

Berangkat dari kejadian tersebut, Farhan dan Raju akhirnya mau mengadopsi pandangan Ranchoddas. Farhan yang dipaksa oleh ayahnya untuk menjadi seorang insinyur akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan kecintaanya terhadap dunia fotografi. Namun ayahnya menolak, dengan alasan gaji yang sedikit dan jauh dari kemewahan apabila anaknya tetap bersikeras menjadi fotografer. Dibantu kedua sahabatnya, akhirnya sang ayah luluh dan mereka berhasil membuktikan bahwa kesuksesan bukan berdasarkan paksaan, tetapi perpaduan antara hobi, talenta dan intuisi.

Remaja, polemik antara “pembangunan dan huru-hara” yang kerab mengisi wajah Indonesia. Dalam pidatonya, Soekarno berkata “Berikan aku 10 pemuda, akan aku guncangkan dunia.”  Kutipan ini memberikan kontroversi kepada publik, akan pentingnya peran dan urgensi pemuda dalam menyukseskan pembangunan suatu negeri. Remaja, berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Secara luas, Istilah adolensence mempunyai arti yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock,1992).

Sederhananya,  remaja sedang mengalami transisi dari fase anak-anak menuju dewasa. Fase remaja adalah fase dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya. Proses mencari jati diri diperoleh dengan berbagai cara, seperti timbulnya rasa ingin tahu, mengumpulkan informasi,,melakukan eksperimen, penyimpulan dan sampai pada puncaknya pembentukan karakater.

Pernahkah terlintas dibenak anda, “Mengapa menjaga seorang remaja lebih sulit dibanding menjaga anak kecil dan orang dewasa? Apa sebenarnya yang diinginkan remaja? ” mungkin itu adalah sekelumit tanda tanya besar di fikiran kita. Jawabannya simple saja, yaitu terletak pada jati diri. Seorang anak kecil umumnya belum mampu “mengorek” jati diri, sedangkan orang dewasa telah memiliki jati diri, dan melakukan sesuatu sesuai dengan jati dirinya. Keluarga,dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan jati diri seorang remaja. Pada fase remaja, emosional masih labil dan ego cenderung dikedepankan. “Pengennya yang enak-enak aja, soal nyesel entar bisa belakangan” sehingga remaja cenderung tidak peka terhadap lingkungan.

Mereview peristiwa dalam kurun waktu setahun ini, di setiap sudut media massa, baik cetak maupun online hampir tidak pernah lepas dari topik kenakalan remaja mulai dari tawuran, free sex, hingga kasus tabrakan maut oleh anak  seorang public pigure.

Melalui kasus-kasus tersebut dapat ditelusuri akar permasalahannya secara fundamental, apakah hanya bagian dari pencarian jati diri yang tak terarah, ataukah bentuk dari sensasi semata. Setidaknya dengan cara seperti itu publik akan menyorot nama mereka, dan akan berkembang opini masyarakat mengakui keberadaan remaja itu sendiri.

Remaja bukanlah “macan sirkus” yang harus digurui, disalahkan lantas dicambuk. Bukan pula rerumput yang hanya  dibiarkan menjalar begitu saja tanpa guna. Mereka ingin dirangkul, dibimbing dan diperhatikan dengan segenap intuisi  dan intelektualisasi. Dengan demikian proses pencarian jati diri remaja akan terarah, sehingga besar peluang tercipta karakter remaja yang tidak hanya mengandalakan mindset tetapi juga berakhlakul karimah.

Penulis : Susanti
Mahasiswi Universitas Malikussaleh, Fakultas Teknik Jurusan Informatika


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :