Topik Terhangat

Kenali Gejala Stress Pada Anak Sebelum Terlembat

Foto : Ilustrasi @google


DILIPUTNews.com, Meulaboh – Banyak yang mengira bahwa anak tidak akan mengalami stres, karena tanggung jawabnya masih sedikit. Ia tak perlu memikirkan pekerjaan yang menumpuk, masalah keluarga atau konflik dengan rekan kerja, layaknya orang dewasa. Kenyataannya, stres pada anak bisa terjadi.

Stres merupakan respon terhadap perubahan pada diri anak. Penyebab stres (stresor) dapat berasal dari luar maupun dalam diri sang anak itu sendiri.

Stresor pada anak bervariasi dan terus berkembang seiring usianya. Sebagai contoh, stresor pada balita adalah cemas berpisah (separation anxiety) dengan orang tua atau pengasuhnya. Sementara itu, stresor pada anak usia sekolah bisa berupa lingkungan sekolah atau tekanan teman kelompoknya.

Hal lain yang dapat menjadi stresor pada anak adalah lingkungan baru saat anak pindah tempat tinggal atau pindah sekolah, anggota keluarga yang meninggal, atau perceraian orang tua. Selain itu, pencetus stres lainnya, bisa berwujud kekhawatiran akan prestasi di sekolah, tekanan dari teman sebaya, keinginan untuk menguasai keahlian tertentu (misal dalam olahraga), hingga perubahan saat pubertas.

Tentu tidak semua stres berdampak buruk bagi anak. Sebagai contoh saat anak dipacu oleh pelatih olahraga, hal tersebut dapat mendorong anak untuk menguasai keahlian dalam olahraga tersebut.

Atau ketika anak melihat rekan sebayanya dapat bermain alat musik, ia pun bisa termotivasi untuk belajar. Keberhasilan anak menghadapi stres di masa kecil akan menjadi modal yang baik baginya untuk menghadapi tantangan saat ia dewasa.

Namun, bila stresor yang dialami terlalu berat atau terus menerus, anak mungkin tidak dapat mengatasinya. Hal ini dapat berakibat buruk bagi kesehatan, baik fisik maupun mental anak di kemudian hari.

Seorang anak mungkin tidak menyadari dirinya berada dalam kondisi stres. Oleh karena itu penting bagi orang tua atau orang dewasa di sekitarnya untuk mengenali tanda-tandanya berikut ini:

Perubahan perilaku yang negatif
Perubahan perilaku ini membuat anak jadi pemurung, mudah menangis, tidak bersemangat melakukan hobinya, sulit konsentrasi saat belajar, cemas terus menerus, hingga sangat takut bila berpisah dengan orang tuanya.

Mengompol
Kontrol kandung kemih melemah ketika sedang stres. Itulah sebabnya anak akan sering mengompol saat ia stres.

Sering mengalami mimpi buruk
Anak yang sedang stres akan menolak ketika disuruh tidur karena takut akan mimpi buruk.

Perubahan pola makan
Anak yang stres bisa jadi makan terlalu sedikit atau sangat banyak.

Perilaku agresif
Anak pada beberapa hari terakhir menunjukkan perilaku agresif, seperti mudah marah, sering berteriak, dan tidak dapat mengontrol emosinya

Gangguan pencernaan
Anak yang sedang stres sering mengeluhkan nyeri perut dan perubahan pola buang air besar.
Bila anak menunjukkan tanda-tanda demikian, segera cari tahu kemungkinan penyebab stres. Ajak anak dan seluruh keluarga untuk pergi bersama atau hanya sekedar berjalan santai.

Untuk anak yang lebih besar, doronglah ia untuk menceritakan apa yang dirasakannya. Dengarkan saat ia bercerita. Anak akan merasa lebih lega bila ia dapat menyalurkan perasaan stresnya.

Stres pada anak dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya. Karena itu, kenali tanda-tandanya sedini mungkin untuk menghindarkan anak dari efek buruk yang bisa berdampak negatif di kemudian hari.(Red)


Ikuti Berita Terkini Di Handphone Anda Melalui Alamat www.m.diliputnews.com


© DiliputNews.com | Share :